DENWATSER SRIKANDI NU BANYUASIN

https://gpansorbanyuasin.blogspot.com/2018/09/lewati-api-sejumlah-wanita-denwatser.html

DENWATSER NU BANYUASIN IKUT SUSBALAN OKI

https://gpansorbanyuasin.blogspot.com/2018/03/lewati-api-sejumlah-wanita-denwatser.html

TASYAKURAN HARLAH 83 GP ANSOR

https://gpansorbanyuasin.blogspot.com/2017/05/video-gp-ansor-siap-lawan-kelompok.html

1000 Anggota GP Ansor Magang di Jepang

https://gpansorbanyuasin.blogspot.com/2017/05/1000-anggota-gp-ansor-magang-di-jepang.html

GP Ansor Kenalkan Islam Nusantara 25 Negara

https://gpansorbanyuasin.blogspot.com/2017/05/gp-ansor-kenalkan-islam-nusantara-ke-23.html

Tampilkan postingan dengan label FRAGMEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FRAGMEN. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Desember 2018

Habib Muhammad Husein Muthahar, Penyelamat Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih


Sang Saka Merah Putih sebagai bendera pusaka ternyata mempunyai catatan sejarah yang cukup heroik sehingga harus diselamatkan dari penjajahan Belanda saat itu. Jika tidak, mungkin anak cucu keturunan bangsa Indonesia sekarang ini tidak dapat menyaksikan bendera pusaka sebagai salah satu bukti sejarah kemerdekaan Indonesia. Tahukah anda bahwa sang penyelamat bendera pusaka dari tangan penjajah saat itu adalah seorang habib, yang mempunyai darah pertalian keturunan dengan Sayyidina Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa alihi wa shohbihi wa sallam?
Sayyidil Habib Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad Al-Muthahar, beliau lah sang penyelamat bendera pusaka Sang Saka Merah Putih dari tangan penjajah. Tanpa jasa beliau, bangsa Indonesia sekarang mungkin sudah tidak dapat melihat lagi bendera pusaka yang dijahit oleh istri Presiden Soekarno, Ibu Fatmawati. Saat itu, Presiden Soekarno menugaskan Habib Muhammad Husein Muthahar yang berpangkat Mayor untuk menjaga dan menyelamatkan bendera pusaka dari tangan penjajahan Belanda meski harus dengan mengorbankan nyawanya. Amanah “menjaga bendera pusaka dengan nyawa” ini pun berhasil dilaksanakan sang Habib dengan penuh perjuangan.
KH Achmad Chalwani Nawawi, pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Gebang, Purworejo yang juga Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah menuturkan bahwa Habib Muhammad Husein Muthahar yang merupakan penyelamat bendera pusaka ini adalah paman dari Habib Umar Muthohar Semarang.
Ingin tahu kisah sang Habib dalam menyelamatkan bendera pusaka? Berikut adalah kisah selengkapnya tentang penyelamatan bendera pusaka oleh Habib Muhammad Husein Muthahar ini yang mesti diketahui oleh bangsa Indonesia khsusunya umat Islam agar tahu bagaimana perjuangan para pendahulu bangsa ini dalam mempertahankan kemerdekan Republik Indonesia.
KISAH HEROIK PENYELAMATAN BENDERA PUSAKA OLEH HABIB MUHAMMAD HUSEIN MUTHAHAR
Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih adalah sebutan bagi bendera Indonesia yang pertama. Bendera Pusaka dibuat dan dijahit oleh Ibu Fatmawati, istri Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno. Bendera pusaka untuk pertama kali berkibar pada Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, setelah Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Bendera dinaikkan pada tiang bambu oleh Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) yang dipimpin oleh Kapten Latief Hendraningrat. Setelah dinaikkan, lagu “Indonesia Raya” kemudian dinyanyikan secara bersama-sama.
Pada tahun pertama Revolusi Nasional Indonesia, Bendera Pusaka dikibarkan siang dan malam. Pada 4 Januari 1946, karena aksi teror yang dilakukan Belanda semakin meningkat, presiden dan wakil presiden Republik Indonesia dengan menggunakan kereta api meninggalkan Jakarta menuju Yogyakarta. Bendera pusaka dibawa ke Yogyakarta dan dimasukkan dalam koper pribadi Soekarno. Selanjutnya, ibukota dipindahkan ke Yogyakarta.
Tanggal 19 Desember 1948, Belanda melancarkan agresinya yang kedua yang membuat Presiden, wakil presiden dan beberapa pejabat tinggi Indonesia akhirnya ditawan Belanda. Di saat-saat genting dimana Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta dikepung oleh Belanda, Presiden Soe­karno sempat memanggil salah satu ajudannya berpangkat Mayor yang bernama Sayyidil Habib Muhammad Husein Muthahar, yang kemudian ditugaskan untuk menyelamatkan sang bendera pusaka. Penyelamatan bendera pusaka ini merupakan salah satu bagian “heroik” dari sejarah tetap berkibarnya Sang Merah putih di persada bumi Indonesia. Saat itu, Soe­karno berucap kepada Habib Husein Muthahar:
“Apa yang terjadi terhadap diriku, aku sendiri tidak tahu. Dengan ini aku memberikan tugas kepadamu pribadi. Dalam keadaan apapun juga, aku memerintahkan kepadamu untuk menjaga bendera kita dengan nyawamu. Ini tidak boleh jatuh ke tangan musuh. Di satu waktu, jika Tuhan mengizinkannya engkau mengembalikannya kepadaku sendiri dan tidak kepada siapa pun kecuali kepada orang yang menggantikanku sekiranya umurku pendek. Andaikata engkau gugur dalam menyelamatkan bendera ini, percayakanlah tugasmu kepada orang lain dan dia harus menyerahkannya ke tanganku sendiri sebagaimana engkau mengerjakannya.”
Di saat bom-bom berjatuhan dan tentara Belanda terus mengalir melalui setiap jalanan kota, Habib Husein Muthahar terdiam dan memejamkan matanya, berpikir dan berdoa. Amanah “menjaga bendera pusaka dengan nyawa” dirasakannya sebagai tanggungjawabnya yang sungguh berat. Setelah berpikir, Habib Husein Muthahar pun menemukan solusi pemecahan masalahnya. Sang Habib ini membagi bendera pusaka menjadi 2 bagian dengan mencabut benang jahitan yang menyatukan kedua bagian merah dan putih bendera itu. Dengan bantuan Ibu Perna Dinata, kedua carik kain merah dan putih itu berhasil dipisahkan. Oleh Habib Husein Muthahar, kain merah dan putih itu lalu diselipkan di dasar dua tas terpisah miliknya. Seluruh pakaian dan kelengkapan miliknya dijejalkan di atas kain merah dan putih itu. Sang Habib hanya bisa pasrah, dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang ada dalam pemikiran Habib Husein Muthahar saat itu hanyalah satu, yakni bagaimana agar pihak Belanda tidak mengenali bendera merah-putih itu sebagai bendera, tapi ha­nya kain biasa, sehingga tidak melakukan penyitaan. Di mata seluruh bangsa Indonesia, bendera itu adalah sebuah “prasasti” yang mesti diselamatkan dan tidak boleh hilang dari jejak sejarah.
Benar, tak lama kemudian Presiden Soekarno ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Prapat (kota kecil di pinggir danau Toba) sebelum dipindahkan ke Muntok, Bangka, sedangkan wakil presi­den Mohammad Hatta langsung dibawa ke Bangka. Habib Husein Muthahar dan beberapa staf kepresidenan juga akhirnya tertangkap dan diangkut dengan pesawat Dakota. Mereka dibawa ke Semarang dan ditahan di sana. Pada saat menjadi tahanan kota, Habib Husein Muthahar berhasil melarikan diri dengan naik kapal laut menuju Jakarta.
Di Jakarta Habib Husein Mutahar menginap di rumah Perdana Menteri Sutan Syahrir, yang sebelumnya tidak ikut mengungsi ke Yogyakarta. Beberapa hari kemudian, Habib Husein Muthahar indekost di Jalan Pegangsaan Timur 43, di rumah Bapak R. Said Soekanto Tjokrodiatmodjo (Kepala Kepolisian RI yang pertama). Selama di Jakarta Habib Husein Muthahar selalu mencari informasi dan cara, bagaimana bisa segera menyerahkan bendera pusa­ka kepada presiden Soekarno. Pada suatu pagi sekitar pertengahan bulan Juni 1948, akhirnya ia menerima pemberitahuan dari Sudjono yang tinggal di Oranje Boulevard (sekarang Jalan Diponegoro) Jakarta. Pemberitahuan itu menyebutkan bahwa ada surat dari Presiden Soekarno yang ditujukan kepadanya.
Sore harinya, surat itu diambil oleh Habib Husein Muthahar dan ternyata memang benar berasal dari Soekarno pribadi. Isinya sebuah perintah agar ia segera menyerahkan kembali bendera pusaka yang dibawanya dari Yogya kepada Sudjono, agar dapat diba­wa ke Bangka. Soekarno sengaja tidak memerintahkan Habib Husein Muthahar sendiri datang ke Bang­ka dan menyerahkan bendera pusaka itu langsung kepadanya. Dengan cara yang taktis, ia menggunakan Soedjono sebagai perantara untuk menjaga kerahasiaan perjalanan bendera pusaka dari Jakarta ke Bangka. Itu tak lain karena dalam pengasingan, Soekarno hanya boleh dikunjungi oleh anggota delegasi Republik Indonesia dalam perundingan dengan Belanda di bawah pengawasan UNCI (United Na­tions Committee for Indonesia). Dan Sudjono adalah salah satu anggota delegasi itu, sedangkan Habib Husein Muthahar bukan.
Setelah mengetahui tanggal keberangkatan Soedjono ke Bangka, Habib Husein Muthahar berupaya menyatukan kembali kedua helai kain merah dan putih dengan meminjam mesin jahit tangan milik seorang istri dokter yang ia sendiri lupa namanya. Bendera pusaka yang tadinya terpisah dijahitnya persis mengikuti lubang bekas jahitan tangan Ibu Fatmawati. Tetapi sayang, meski dilakukan dengan hati-hati, tak urung terjadi juga kesalahan jahit sekitar 2 cm dari ujungnya. Dengan dibungkus kertas koran agar tidak mencurigakan, selanjutnya bendera pusaka diberikan Habib Husein Muthahar kepada Soedjono untuk diserahkan sendiri kepada Presiden Soekarno. Hal ini sesuai dengan perjanjian Soekarno dengan Habib Husein Muthahar sewaktu di Yogyakarta. Dengan diserahkannya bendera pusaka kepada orang yang diperintahkan Soekarno maka selesailah tugas penyelamatan yang dilakukan Habib Husein Muthahar. Sejak itu, Sang Habib tidak lagi menangani masalah pengibaran bendera pusaka.
Tanggal 6 Juli 1949, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta kembali ke Yogyakarta dari Bangka dengan membawa serta bendera pusaka. Tanggal 17 Agustus 1949, bendera pusaka dikibarkan lagi di halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta. Pada 27 Desember 1949, naskah pengakuan kedaulatan lndo­nesia ditandatangani dan sehari setelah itu Soekarno kembali ke Jakarta untuk memangku jabatan Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS). Setelah empat tahun ditinggalkan, Jakarta pun kembali menjadi ibukota Republik Indonesia. Hari itu juga, bendera pusaka dibawa kembali ke Jakarta. Dan untuk pertama kalinya setelah Prok­lamasi Kemerdekaan Indonesia, bendera pusaka Sang Saka Merah Putih kembali berkibar di Jakarta pada peringatan Detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1950. Karena kerapuhan bendera pusaka, sejak tahun 1968, bendera yang dinaikkan di Istana Negara adalah replika yang terbuat dari sutra.
Pada tahun 1968, Habib Muhammad Husein Muthahar membentuk organisasi mahasiswa Pasukan Pengibar Bendera Pusaka, atau Paskibraka (Bendera Pusaka Flag Hoisting Troop). Paskibraka inilah yang nantinya akan selalu bertugas sebagai pasukan pengibar bendera pusaka pada setiap upacara HUT Kemerdekaan Republik Indonesia hingga sekarang. Selain membentuk Paskibraka, beliau pun menyusun tata cara pengibaran bendera pusaka. Atas jasanya ini, beliau mendapat julukan Bapak Paskibraka Indonesia.
SANG KOMPONIS LAGU INDONESIA YANG FENOMENAL, HARI MERDEKA, DAN HYMNE SYUKUR
Habib Muhammad Husein Muthahar tidak hanya dikenal sebagai penyelamat bendera pusaka dan pendiri Paskibraka saja tetapi beliau juga seorang komponis lagu Indonesia yang hebat. Habib yang dikenal dengan nama H. Mutahar ini telah menghasilkan ratusan lagu Indonesia, seperti lagu nasional Hari Merdeka, Hymne Syukur, Hymne Pramuka, Dirgayahu Indonesiaku, juga lagu anak-anak seperti Gembira, Tepuk Tangan Silang-silang, Mari Tepuk, dan lain-lain.
Lagu Hari Merdeka dan Hymne Syukur adalah salah satu lagu fenomenal yang diciptakan oleh Habib Muhammad Husein Muthahar. Terkait penciptaan lagu Hari Merdeka, ada satu cerita yang menarik. Ternyata inspirasi lagu Hari Merdeka ini muncul secara tiba-tiba saat beliau sedang berada di toilet salah satu hotel di Yogyakarta. Bagi seorang komponis, setiap inspirasi tidak boleh dibiarkan lewat begitu saja. Beliau pun cepat-cepat meminta bantuan Pak Hoegeng Imam Santoso (Kapolri pada 1968 –1971). Saat itu Pak Hoegeng belum menjadi Kapolri. Sang Habib menyuruh Pak Hoegeng untuk mengambilkan kertas dan bolpoin. Berkat bantuan Pak Hoegeng, akhirnya jadilah sebuah lagu yang kemudian diberi judul “Hari Merdeka”. Sebuah lagu yang sangat fenomenal dan sangat terkenal yang banyak dinyanyikan oleh bangsa Indonesia, bahkan anak-anak pun sangat hafal dan pandai menyanyikannya.

Berikut lirik lagu Hari Merdeka ciptaan Habib Muhammad Husein Muthahar:
Tujuh belas agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka

Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap setia tetap sedia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia tetap sedia
Membela negara kita

Selain “Hari Merdeka”, lagu berikut juga menjadi karya fenomenal beliau. Judulnya “Syukur”. Lagu ini tercipta setelah menyaksikan banyak warga Semarang, kota kelahirannya, bisa bertahan hidup dengan hanya memakan bekicot. Berikut lirik lagunya:
Dari yakinku teguh
Hati ikhlasku penuh
Akan karuniamu
Tanah air pusaka
Indonesia merdeka
Syukur aku sembahkan
Kehadiratmu Tuhan

Dan masih banyak lagi karya fenomenal beliau yang lainnya.
Habib Muhammad Husein Muthahar meninggal dunia di Jakarta pada usia hampir 88 tahun, pada 9 Juni 2004 akibat sakit tua. Semestinya beliau berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata dengan upacara kenegaraan sebagaimana penghargaan yang lazim diberikan kepada para pahlawan. Tetapi, beliau tidak menginginkan itu. Sesuai dengan wasiat beliau, pada 9 Juni 2004 beliau dimakamkan sebagai rakyat biasa di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut Jakarta Selatan dengan tata cara Islam.
Allahu yarhamhu, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat (kasih sayang) kepada beliau, Sayyidil Habib Muhammad Husein Muthahar. Semoga jasa dan perjuangan beliau untuk Tanah Air Indonesia dibalas dengan surga dan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala. Semoga pula beliau tercatat sebagai pejuang yang syahid. Amin Ya Robbal ‘Alamin, Alfatihah….
Tulisan berjudul Habib Muhammad Husein Muthahar, Penyelamat Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih terakhir diperbaharui pada Wednesday 12 August 2015 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

Jumat, 28 Desember 2018

Kisah Masa Muda Ajengan Ilyas dan Kongres IPNU


Mengikuti Kongres Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) adalah sebuah kebanggan bagi setiap kadernya. Cerita yang terukir dari forum tertinggi IPNU tersebut akan melekat bagi para kader IPNU, termasuk KH Ilyas Ruhiat, Rais Aam PBNU 1994-1999

Kiai Ilyas merupakan pendiri dan ketua IPNU Tasikmalaya pertama. Keterlibatannya di IPNU tak lepas dari perintah sang ayah, Ajengan Ruhiat, yang ketika itu menjabat sebagai Rais Syuriyah Partai NU Tasikmalaya.

Kiai Ilyas yang dikenal ajengan santun ini merintis IPNU Tasikmalaya tahun 1954. Bahkan menurut Ketua Umum PP IPNU Asep Irfan Mujahid, pada sambutannya ketika pelantikan PC IPNU Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2017, menyatakan IPNU Tasikmalaya di bawah kepemimpinan Ajengan Ilyas merupakan cabang ketujuh pendiriannya dari sekian ratus cabang saat ini.

Pada masa pendirian IPNU Tasikmalaya, salah satu kegiatan utama yang harus dihadapi yaitu ikut menyukseskan Muktamar I IPNU di Malang 28- 5 Maret 1955 dan diputuskan nama Ilyas Ruhiat yang akan mewakili IPNU Tasikmalaya.

Keberangkatannya sebagai utusan untuk mengikuti muktamar (sekarang kongres) pertama itu pun secara tidak langsung membuat nama Ilyas Ruhiat dikenal kaum Nahdliyin di seputar Tasikmalaya.

Seperti halnya sekarang, perjuangan mengikuti forum tertinggi itu pasti memerlukan bekal, begitupun Kiai Ilyas. Untuk membiayai pemberangkatannya, NU Tasikmalaya pun menyebarkan edaran ke berbagai kantong NU, yaitu majelis-majelis taklim di Tasikmalaya untuk mengumumkan pemberangkatan Ilyas Ruhiat sebagai utusan IPNU Tasikmalaya.

Pengumuman itu dibarengi dengan kencleng (kotak kayu untuk menampung sumbangan dari jamaah) dan menyisir seluruh jamaah yang memadati setiap majelis taklim tak terkecuali majelis taklim asuhan Ajengan Mapruh Rancapaku.

Di Rancapku, putri Ajengan Mapruh bernama Dedeh Fuadah (di kemudian hari akan menjadi istri Ajengan Ilyas, 1956) ikut menyumbang. Tanpa ragu ia masukan tabungan dari uang jajannya ke dalam kencleng.

Kencleng iuran warga Nahdliyin itu akhirnya mengantarkan sang ajengan mengikuti forum tertinggi IPNU yang pertama di malam.

Dengan keterlibatannya di IPNU ia menjalin hubungan luas dengan berbagai aktivis IPNU di berbagai daerah dan kemudian mengenal Pendiri IPNU KH Tolchah Mansoer dan sangat dekat dengan Najib Abdul Wahab (putra KH Abdul Wahab Hasbulloh) .

Jajaran pengurus PP IPNU di antaranya Tolchah Mansur, Najib Abdul Wahab dan Umroh Mahfudzoh sempat mengunjunginya di Cipasung dan melakukan rekreasi ke Tangkuban Parahu, Bandung.

Muktamar Pertama ini diikuti 30 cabang dan pesantren ini menjadi saksi sejarah berdirinya IPPNU 2 Maret 1955 dan proses perjalanan organisasi masih memfokuskan diri pada penataan dan pengembangan organisasi sekaligus bersinergi dengan IPPNU.

Selama kiprahnya di IPNU Ajengan Ilyas mengikuti kongres tiga kali yaitu, Muktamar II Pekalongan 1957 dan Muktamar III Cirebon 1958.

Pada saat artikel ini ditulis Tahun 2018 akan dilaksanakan Kongres IPNU XIX di Pondok Pesantren Khas Kempek Cirebon, semoga bisa menghasilkan keputusan yang terbaik dan membawa kemaslahatan bagi Pelajar NU dan Sampai berjumpa di arena kongres. (Husni Mubarok)

Sumber :
Iip D Yahya, Ajengan Cipasung Biografi KH Ilyas Ruhiat (Yogyakarta, LkiS), 2006.
Prinsip Perjuangan IPNU

Saat NU Mempertegas Hasil Kongres Pemuda

Ilustrasi: KH Wahab Chasbullah di podium (ist)

Pergerakan nasional dalam upaya membebaskan bangsa Indonesia dari kungkungan penjajah menempatkan peran pemuda dalam posisi yang strategis. Karakter pemuda yang mempunyai semangat, gesit, dan progresif perlu mendapat penguatan wawasan kebangsaan dan cinta tanah air.

Untuk menanamkan cinta tanah air tersebut, salah seorang kiai pesantren bernama KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971) pernah mendirikan madrasah dan perguruan Nahdlatul Wathan pada tahun 1916 (Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010). Perguruan ini menampung para pemuda yang berusaha digembleng Kiai Wahab untuk memperkuat cinta tanah selain ilmu agama berbasis keilmuan pesantren.

Sebutan Syubbanul Wathan (para pemuda cinta tanah) disematkan oleh Kiai Wahab untuk mempertegas komitmen kebangsaan para pemuda dalam upaya memerdekakan bangsa dan negara. Berbeda dengan KH Mas Mansur yang memilih jalur perjuangan politik, Kiai Wahab lebih menempuh jalur pendidikan untuk penanaman cintah tanah air kepada para pemuda.

Ghirah kebangsaan yang digelindingkan Kiai Wahab kepada para pemuda berhasil menyisir dan mengubah pola pikir para pemuda di setiap daerah. Dengan semangat cinta tanah air, perbedaan tidak menjadi hambatan untuk bersatu dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Dilandasi rasa senasib dan sepenanggungan, para pemuda dari sejumlah suku dan pulau berkumpul untuk menginiasi Kongres Pemuda. Kongres Pemuda pertama berhasil dilaksanakan pada 2 Mei 1926, di mana pada tahun tersebut para kiai dan santri resmi mendeklarasikan Jami’iyyah Nahdlatul Ulama.

Embrio gerakan pemuda yang diperjuangkan Kiai Wahab Chasbullah coba dikristalkan oleh para pemuda dalam Kongres Pemuda pertama pada 2 Mei 1926 untuk mempertegas persatuan Indonesia. Pada kongres pertama tersebut, salah seorang perumus dalam Kongres Pemuda Indonesia Mohammad Tabrani asal Pamekasan Madura menyarankan penggunaan Bahasa Indonesia.

Dalam pidatonya Mohammad Tabrani mengatakan: “Kita sudah mengaku bertumpah darah satu, tanah Indonesia. Kita sudah mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Mengapa kita harus mengaku bahasa persatuan, bukan bahasa Indonesia? Bahasa persatuan hendaknya bernama bahasa Indonesia. Kalau bahasa Indonesia belum ada, kita lahirkan bahasa Indonesia melalui Kongres Pemuda Pertama ini.” (Nuny Sulistiyani Idris, tt)

Namun, dalam Kongres Pertama tersebut belum menghasilkan rumusan aksi yang matang dan sistematis sehingga para pemuda kembali menggelar Kongres Pemuda kedua pada 28 Oktober 2018. Pada kongres kedua ini berhasil menelurkan komitmen kebangsaan yang disebut Sumpah Pemuda. Saran Bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan diperluas ke dalam komitmen bangsa dan tanah air yang satu, yaitu Indoensia.

Isi Sumpah Pemuda yang berhasil dirumuskan pada Kongres Pemuda kedua 28 Oktober 2018 ialah sebagai berikut:

Soempah Pemoeda

Pertama: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kedoea: Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga: Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Setahun sebelum deklarasi Sumpah Pemuda, tepatnya pada tanggal 9 Oktober 1927, para kiai NU dalam forum tertinggi NU memutuskan untuk melakukan perlawanan kultural. Para kiai NU menyasar pada pelarangan budaya Belanda dalam hal model pakaian.

Keputusan NU tahun 1927 untuk melakukan perlawanan kultural menyebar ke tengah masyarakat. Muslim Nusantara merespon kiai NU dengan dengan melakukan perlawanan yang sama. Segala macam asesoris, ornamen, simbol yang berbau penjajah mendapatkan penolakan keras dari masyarakat desa.

Selama satu tahun NU melakukan perlawanan kultural dengan berbagai konsekuensi turunannya. Babak selanjutnya terjadi pada tanggal 9 September 1928 saat NU menggelar Muktamar sebulan sebelum deklarasi Sumpah Pemuda pada 22 Oktober.

Satu bulan pasca Muktamar ke-3 NU, tepatnya pada 28 Oktober 1928, Sumpah Pemuda dideklarasikan. Tema besar Sumpah Pemuda juga mendapat respon cepat masyarakat mengingat Sumpah Pemuda adalah bagian dari babak perjuangan anak bangsa, termasuk Nahdlatul Ulama yang sejak lama sudah melakukan gerakan sistemik kebangkitan nasional.

Dalam catatan Abdul Mun’im DZ (Piagam Perjuangan Kebangsaan, 2011), gema Sumpah Pemuda Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa yaitu Indonesia menggelora di seluruh penjuru Nusantara sehingga menjadi bahasan semua kalangan pergerakan termasuk dalam NU dan dunia pesantren secara umum.

Namun, salah satu butir yang menjadi perhatian adalah munculnya aspirasi negara bangsa (nation state) sebagaimana diikrarkan dalam Sumpah Pemuda tersebut. Konsep negara bangsa tersebut sekaligus menjadi persoalan krusial bagi sebagian umat Islam yang masih berpandangan untuk mendirikan negara Islam.

Karena persoalan ini menjadi bahan perbincangan umat Islam, maka sebagai bentuk tanggung jawab sosial, NU kemudian membawa persoalan tersebut ke dalam Muktamar ke-11 NU tahun 1936 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Singkatnya, dalam Muktamar tersebut, NU mempertegas bahwa nation state tidak bertentangan dengan prinsip dan ajaran Islam, juga sudah memenuhi aspirasi umat Islam. Karena di dalamnya ada jaminan bagi umat Islam untuk mengajarkan dan menjalankan agamanya secara bebas. Dengan demikian, Islam tidak perlu membuat negara lain yang berdasarkan syariat Islam, karena negara yang dirumuskan (negara bangsa) telah memenuhi aspirasi Islam. (Fathoni)

Peneguhan Pancasila di Tangan Hadhratussyekh dan Gus Dur


KH Abdurrahman Wahid dan kakeknya, Hadhratussyekh KH Hasyim Asy’ari pernah sama-sama berikhtiar meneguhkan Pancasila dengan caranya masing-masing. Kiai Hasyim As’yari pada 1945 mentashih rumusan Pancasila dari Tim 9 sudah sesuai syariat Islam atau belum. Hal ini karena ada kelompok Islam tertentu yang kejelasan terminologi syariat Islam ke dalam sila Ketuhanan.

Sedangkan Gus Dur juga bersama tim perancang naskah hubungan Pancasila dengan Islam berhasil meyakinkan umat untuk mempertegas Pancasila sebagai asas tunggal organisasi pada 1984. Adapun ayah Gus Dur, KH Wahid Hasyim juga berhasil merumuskan Pancasila secara sistematis seperti yang kita ketahui saat ini.

Pada 1945, kelompok-kelompok Islam tertentu menilai bahwa kalimat Ketuhanan Yang Maha Esa tidak jelas sehingga perlu diperjelas sesuai prinsip Islam. Akhirnya, Soekarno bersama tim sembilan yang bertugas merumuskan Pancasila pada 1 Juni 1945 mempersilakan kelompok-kelompok Islam tersebut untuk merumuskan mengenai sila Ketuhanan.

Setelah beberapa hari, pada tanggal 22 Juni 1945 dihasilkan rumusan sila Ketuhanan yang berbunyi, “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Kalimat itu dikenal sebagai rumusan Piagam Jakarta. Rumusan tersebut kemudian diberikan kepada tim sembilan. Tentu saja bunyi tersebut tidak bisa diterima oleh orang-orang Indonesia yang berasal dari keyakinan yang berbeda.

Poin agama menjadi simpul atau garis besar yang diambil Soekarno yang akhirnya menyerahkan keputusan tersebut kepada Hadlratussyekh KH Hasyim Asy’ari untuk menilai dan mencermati apakah Pancasila 1 Juni 1945 sudah sesuai dengan syariat dan nilai-nilai ajaran Islam atau belum.

Saat itu, rombongan yang membawa pesan Soekarno tersebut dipimpin langsung oleh KH Wahid Hasyim yang menjadi salah seorang anggota tim sembilan perumus Pancasila. Mereka menuju Jombang untuk menemui KH Hasyim Asy’ari. Sesampainya di Jombang, Kiai Wahid yang tidak lain adalah anak Kiai Hasyim sendiri melontarkan maksud kedatangan rombongan.

Setelah mendengar maksud kedatangan rombongan, Kiai Hasyim Asy’ari tidak langsung memberikan keputusan. Prinspinya, Kiai Hasyim Asy’ari memahami bahwa kemerdekaan adalah kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia, sedangkan perpecahan merupakan kerusakan (mafsadah) sehingga dasar negara harus berprinsip menyatukan semua. Untuk memutuskan bahwa Pancasila sudah sesuai syariat Islam atau belum, Kiai Hasyim Asy’ari melakukan tirakat.

Di antara tirakat Kiai Hasyim ialah puasa tiga hari. Selama puasa tersebut, beliau meng-khatam-kan Al-Qur’an dan membaca Al-Fatihah. Setiap membaca Al-Fatihah dan sampai pada ayat iya kana’ budu waiya kanasta’in, Kiai Hasyim mengulangnya hingga 350.000 kali. Kemudian, setelah puasa tiga hari, Kiai Hasyim Asy’ari melakukan shalat istikharah dua rakaat. Rakaat pertama beliau membaca Surat At-Taubah sebanyak 41 kali, sedangkan rakaat kedua membaca Surat Al-Kahfijuga sebanyak 41 kali. Kemudian beliau istirahat tidur. Sebelum tidur Kiai Hasyim Asy’ari membaca ayat terkahir dari Surat Al-Kahfi sebanyak 11 kali. (Sumber: KH Ahmad Muwafiq)

Paginya, Kiai Hasyim Asy’ari memanggil anaknya Wahid Hasyim dengan mengatakan bahwa Pancasila sudah betul secara syar’i sehingga apa yang tertulis dalam Piagam Jakarta (Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya) perlu dihapus karena Ketuhanan Yang Maha Esa adalah prinsip ketauhidan dalam Islam.

Sila-sila lain yang termaktub dalam sila ke-2 hingga sila ke-5 juga sudah sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip ajaran Islam. Karena ajaran Islam juga mencakup kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Atas ikhtiar lahir dan batin Kiai Hasyim Asy’ari tersebut, akhirnya rumusan Pancasila bisa diterima oleh semua pihak dan menjadi pemersatu bangsa Indonesia hingga saat ini.

Adapun riwayat ketika Gus Dur secara mudah memutuskan bahwa Pancasila itu Islami dan final diceritakan oleh salah satu sahabat Gus Dur, KH Ahmad Mustofa Bisri yang akrab disapa Gus Mus dalam Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus karya KH Husein Muhammad (2015).

Bahkan, Gus Mus sendiri merupakan pelaku sejarah dalam perumusan Pancasila sebagai asas tunggal organisasi dalam Muktamar NU 1984 tersebut. Dia salah satu kiai yang ditunjuk oleh Gus Dur untuk menjadi anggota dalam tim perumusan deklarasi hubungan Islam dan Pancasila.

Muktamar NU 1984 juga menjadi tonggak sejarah bagi organisasi para kiai pesantren ini untuk kembali ke Khittah 1926. NU menegaskan diri sebagai Jami’yyah Diniyyah Ijtima’iyyah (organisasi sosial kegamaan) sesuai amanat pendirian organisasi pada 1926, bukan lagi sebagai organisasi politik praktis.

Dalam Muktamar 1984 itu ada tiga komisi, salah satunya adalah komisi khittah yang membahas paradigma, gagasan dasar, dan konsep hubungan Islam dan Pancasila. Dua komisi lain membahas tentang keorganisasian yang dipimpin oleh Drs Zamroni dan komisi AD/ART dipimpin oleh KH Tholhah Mansur. Dengan jumlah anggota rapat komisi yang cukup banyak, mereka membahas secara terpisah di tempat yang berbeda.

Gus Dur memimpin subkomisi yang merumuskan deklarasi hubungan Islam dan Pancasila. Salah seorang cucu Hadltrassyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari  (1871-1947) ini kemudian menunjuk lima orang kiai sebagai anggotanya, yaitu KH Ahmad Mustofa Bisri dari Rembang, Dr KH Hasan dari Medan, KH Zahrowi, KH Mukafi Makki, dan dr Muhammad dari Surabaya. 

Gus Dur membuka rapat dengan bertanya kepada anggotanya satu per satu soal pendapatnya tentang hubungan Islam dan Pancasila. Mereka menyampaikan pandangannya terhadap satu per satu sila dalam Pancasila disertai sejumlah argumen keagamannya. Gus Dur mendengarkan dan menyimak dengan penuh perhatian.

Pada dasarnya, Pancasila menurut para kiai dalam subkomisi ini tidak bertentangan dengan Islam, justru sebaliknya sejalan dengan nilai-nilai Islam. “Pancasila itu Islami,” simpul mereka seperti diungkapkan Gus Mus. 

Usai mereka menjawab, Gus Dur berkata, “Bagaimana jika ini (Pancasila itu Islami, red) saja yang nanti kita sampaikan, kita deklarasikan di hadapan sidang pleno Muktamar?” tanya Gus Dur. Tanpa pikir panjang, mereka setuju, sepakat bulat, lalu rapat ditutup. “Al-Fatihah!” Menurut pengakuan Gus Mus, kala itu Gus Dur tersenyum manis, ya manis sekali.

Lalu Gus Mus memberikan kesaksian, “Gus Dur hebat sekali. Rapat untuk sesuatu yang mendasar dan pondasi bagi penataan relasi kehidupan berbangsa dan bernegara hanya diputuskan dalam waktu 10 menit! Sementara komisi yang lain rapat sampai berjam-jam bahkan hingga subuh untuk memutuskan pembahasan sesuai bidangnya masing-masing.”

Alasan Gus Dur Ubah Nama Irian Jaya Menjadi Papua

Gus Dur dan masyarakat Papua (Dok. istimewa)

Sosok KH Abdurrahman Wahid tidak bisa dilepaskan perannya dalam memberikan spirit kemanusiaan di tanah Papua dari segala bentuk diskriminasi, marjinalisasi, dan krisis di segala bidang. Papua membutuhkan sekaligus menyayangi Gus Dur.

Menurut keterangan seorang santri Gus Dur asal Kudus, Nuruddin Hidayat (2018), pada 30 Desember 1999 atau tepat dua bulan sepuluh hari setelah dilantik menjadi Presiden keempat RI, Gus Dur berkunjung ke Irian Jaya dengan dua tujuan, yaitu untuk berdialog dengan berbagai elemen di Papua dan melihat matahari terbit pertama milenium kedua tanggal 1 Januari 2000 pagi.

Pada 30 Desember 1999 dimulai jam 8 malam dialog dengan berbagai elemen dilakukan di gedung pertemuan Gubernuran di Jayapura. Meskipun dengan cara perwakilan, tetapi banyak sekali yang datang karena penjagaan tidak ketat.

Gus Dur mempersilakan mereka berbicara terlebih dulu, dari yang sangat keras dengan tuntutan merdeka dan tidak mempercayai lagi pemerintah Indonesia hingga yang memuji tapi dengan berbagai tuntutan.

Selanjutnya Presiden berbicara merespon mereka. Banyak hal ditanggapi, tetapi yang penting ini, "Saya akan mengganti nama Irian Jaya menjadi Papua," katanya. “Alasannya?”

"Pertama, nama Irian itu jelek," kata Gus Dur. "Kata itu berasal dari bahasa Arab yang artinya telanjang. Dulu ketika orang-orang Arab datang ke pulau ini menemukan masyarakatnya masih telanjang, sehingga disebut Irian."

Gus Dur lalu melanjutkan, "kedua, dalam tradisi orang Jawa kalau punya anak sakit-sakitan, sang anak akan diganti namanya supaya sembuh. Biasanya sih namanya Slamet. Tapi saya sekarang ganti Irian Jaya menjadi Papua."

Seorang Antropolog bahasa Melanesia mencari asal-usul kata Irian yang diceritakan Gus Dur, tapi tidak pernah menemukannya (kalau tidak ketemu, tidak berarti tidak ada kan? Ini benar-benar cara Gus Dur memecahkan masalah rumit dan besar seperti masalah Papua de
ngan humor.

Sohibul riwayah, Ahmad Suaedy menduga mengapa Gus Dur menggunakan alasan bahasa Arab dan tradisi Jawa? Gus Dur mencoba "menenangkan" hati orang-orang Islam dan orang-orang Jawa yang berpotensi melakukan protes.

Selain hormat dengan teladan, prinsip, dan keberanian Gus Dur, Manuel Kaisiepo (2017) memiliki cerita. Menteri Negara Percepatan Kawasan Timur Indonesia era Presiden Megawati itu mengisahkan, ketika Kongres Rakyat Papua akan diselenggarakan, maka Gus Dur menyetujui kongres tersebut dilaksanakan.

Ketika kongres itu mau diadakan, semua orang protes. Itu separatis. Tetapi presiden (Gus Dur) menyetujui kongres itu diadakan. Bahkan, Gus Dur juga akan membantu terselenggaranya acara kongres tersebut, yaitu dengan memberikan bantuan pendanaan. Ini langkah Gus Dur yang dianggapnya nyeleneh, lain daripada yang lain.

Saat Gus Dur menemui kelompok separatis tersebut, banyak orang yang protes dan mengira bahwa Gus Dur menyetujui keberadaan mereka.

Gus Dur menegaskan bahwa semua yang ada di Papua adalah saudara-saudara dirinya, saudara sebangsa dan sesama manusia. Hal ini dilakukan Gus Dur tak lain untuk membangun kepercayaan masyarakat Papua kepada pemerintah. 

Jumat, 05 Oktober 2018

Ketika KH Hasyim Asy’ari Hadapi Hoaks Penjajah

KH Hasyim Asy'ari dan serdadu Nippon (istimewa)

Sejarah mencatat bahwa sejumlah Pahlawan Kemerdekaan Indonesia terjebak oleh bujuk rayu dan tipu muslihat penjajah Belanda yang awalnya menawarkan perdamaian, tetapi berujung penangkapan lewat pertemuan yang mereka inisiasi. Hal ini menimpa Pangeran Diponegoro saat Belanda merasa kewalahan dalam Perang Jawa (1825-1830 M), selain itu Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, dan lain-lain.

Tipu muslihat dan kebohongan atau yang saat ini familiar disebut hoaks menjadi salah satu senjata ampuh karena Belanda memahami karakter bangsa Indonesia yang cenderung terbuka terhadap jalan keluar terbaik. Senjata hoaks ini juga menimpa perjuangan para kiai ketika berhadapan dengan penjajah Belanda.

Salah satu sorotan menarik penjajah Belanda yaitu ketika umat Islam dari berbagai jalan pemikiran dan madzhab membentuk perkumpulan atau organisasi. Memang, di satu sisi Belanda juga mempunyai rasa khawatir dengan perkumpulan-perkumpulan tersebut. Karena menyebabkan mereka semakin kuat dalam hal doktrin dan konsolidasi.

Kekhawatiran munculnya perlawanan dari kaum pribumi melalui berbagai organisasi seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, dan organisasi Islam lainnya juga menjadi alasan Belanda mencari celah untuk melawan mereka. Melawan secara frontal tentu tidak akan dilakukan Belanda karena bisa memunculkan perlawanan yang lebih dahsyat dari rakyat pribumi.

Belanda melihat celah di mana setiap organisasi mempunyai pandangan-pandangan tersendiri perihal paham keagamaan dan madzhab. Mereka dilihat Belanda juga sering berbeda pendapat bahkan saling ‘serang’ argumen sehingga tak jarang menimbulkan friksi atau gesekan.

Untuk menjalankan misinya itu, Belanda kerap mencampuri urusan agama, melakukan politik adu domba, dan kebohongan. Namun, strategi adu domba belum juga membuahkan hasil yang diharapkan sehingga langkah akhirnya mereka lakukan ketika menyebarkan tulisan-tulisan atau kabar bohong (hoaks) yang cenderung menghina prinsip ajaran Islam.

Namun, perdebatan dan pertengkaran di antara umat Islam dari berbagai perkumpulan organisasi lewat politik adu domba pun semakin memberikan sinyal bahwa Islam harus bersatu melawan penjajah Belanda.

Nahdlatul Ulama (NU) dalam forum Muktamar tahun 1936 di Banjarmasin menegaskan pentingnya persatuan umat Islam untuk melawan berbagai propaganda Belanda. Rais Akbar NU KH Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947) memanfaatkan forum tertinggi di NU tersebut untuk menggaungkan tali kuat persatuan di kepada para peserta Muktamar dan umat Islam pada umumnya, baik dari golongan ulama maupun masyarakat umum.

Dalam amanatnya, Kiai Hasyim Asy’ari menyerukan terjalinnya persatuan umat Islam dan membunag jauh pertengkaran soal khilafiyah guna menghadapi siapa saja yang sengaja memusuhi Islam, terutama kaum penjajah. Kiai Hasyim (Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010) mengatakan:

"Wahai sekalian ulama yang berta’assub kepada sebagian madzhab atau qaul ulama, tinggalkanlah ta’assub kalian terhadap perkara-perkara furu’ (cabang)."

Kiai Hasyim berpandangan, sebesar apapun kepentingan suatu kelompok, jika hanya memunculkan perpecahan di antara umat Islam Indonesia harus segera diakhiri untuk prospek perjuangan yang lebih besar mengingat bangsa Indonesia masih terjajah oleh Belanda kala itu. Apalagi pemicu perpecahan dari intrik-intrik yang dilakukan penjajah.

Untuk memperkuat persatuan tersebut, langkah tindak lanjut dilakukan Kiai Hasyim Asy’ari ketika NU menyelenggarakan Muktamar ke-12 tahun 1937 di Malang, Jawa Timur. Kiai Hasyim mengajak golongan Islam manapun untuk ikut menghadiri Muktamar NU tersebut. Ajakan itu tertulis dalam sebuah undangan yang berbunyi:

“.....kemarilah tuan-tuan yang mulia, kemarilah, kunjungilah permusyawaratan kami, marilah kita bermusyawaralah tentang apa-apa yang terjadi baiknya agama dan umat, baikpun urusan agamanya dan dunianya; sebab dunia ini tempat mengusahakan akhirat dan kebajikan tergantung pula atas beresnya perikeduniaan...”

Seruan dan ajakan Kiai Hasyim Asy’ari selaku pemimpin tertinggi NU itu cukup mengetuk kesadaran seluruh pemimpin perkumpulan Islam. Jika sejak 1927-1936 tidak lagi terdengar kegiatan Kongres Al-Islam (setelah Muktamar Dunia Islam di Mekkah tahun 1926 diubah namanya menjadi MAIHS, Muktamar ‘Alam Islami Far’ul Hidis Syarqiah), yang biasanya diprakarsai Syarikat Islam dan Muhammadiyah, maka sejak ada seruan Kiai Hasyim itulah usaha untuk mengumpulkan kembali sisa-sisa persatuan dan melepaskan simpul-simpul pertengkaran, mulai tampak dirintis kembali atas kepeloporan Kiai Hasyim.

Upaya Kiai Hasyim tidak hanya berhasil menyatukan seluruh komponen umat Islam, tetapi juga mampu mengikis usaha Belanda untuk memecah belah rakyat Indonesia. Karena walau bagaimana pun, seluruh elemen masyarakat masih menjadikan ulama dan kiai sebagai tokoh panutan dan subjek utama untuk dimintai pandangan dan pemikirannya. Hal ini menjadikan titik utama kenapa Belanda berupaya menggemboskan peran dan posisi ulama dengan menjadikan mereka terus bertengkar lewat kabar-kabar bohong.

Tidak hanya di zaman penjajahan Belanda, saat Pasukan Nippon (Jepang) datang menjajah Indonesia, negeri matahari terbit ini juga menyasar pergerakan KH Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Aksi kebohongan Jepang ialah melontarkan tuduhan dan fitnah kepada Kiai Hasyim soal pemberontakan rakyat di Desa Cukir, Jombang.

Dengan bekal kabar bohong yang sampai di telinga para petinggi Jepang di Jakarta, pasukan Nippon bergerak ke Jombang untuk menangkap Kiai Hasyim Asy’ari atas tuduhan pemberontakan di Cukir. Atas tindakan semena-mena tersebut, santri Tebuireng tidak tinggal diam. Mereka melawan dan mencegah penangkapan gurunya itu.

Namun, Kiai Hasyim bersedia ditangkap, bukan karena dia salah tetapi untuk keselamatan pesantren secara luas. Peristiwa ini sekaligus memberikan pelajaran berharga untuk putra KH Wahid Hasyim (putra KH Hasyim Asy’ari) dalam berdiplomasi dengan penjajah. Dibantu KH Wahab Chasbullah, Gus Wahid berhasil membebaskan ayahnya dari penjara dan siksa tentara Jepang. (Fathoni)

Minggu, 23 September 2018

Kisah Keikhlasan Gus Dur


Dikisahkan oleh Ketua PWNU Jawa Timur, KH. Marzuki Mustamar, tentang keikhlasan sosok KH. AbdurrahmanWahid (Gus Dur). Suatu hari KH. Maimoen Zubair (Mbah Moen) menggelar acara pernikahan putra beliau. Saat itu, untuk membantu kelancaran acara, Gus Dur memberikan bantuan banyak sekali  sehingga acara pernikahan dapat berjalan dengan baik. 

Selanjutnya Gus Dur pun berkata kepada Mbah Moen bahwa kewajibannya untuk membantu acara Mbah Moen sudah dilaksanakan. Sekarang saatnya Mbah Moen membantunya dengan menutupi semua amal kebaikan yang sudah dilakukannya dan tidak menceritakan kebaikannya tersebut kepada orang lain dengan berbagai cara. Salah satunya, Gus Dur meminta kepada Mbah Moen untuk pura-pura saling bermusuhan agar segala amal kebaikannya tidak diketahui oleh orang lain. Cukup Allah SWT yang tahu. Oleh karena itu ketika semasa hidup Gus Dur, Mbah Moen dan Gus Dur terlihat sangat bermusuhan karena memang sudah direncanakan untuk bersandiwara.

Namun ketika Gus Dur meninggal dunia, sandiwara pun usai. Mbah Moen lah yang memimpin prosesi pemakaman Gus Dur. Tidak hanya itu, prosesi selanjutnya, Mbah Moen lah yang mengimami tahlil takziyah hari ketujuh. Mbah Moen lah yang mengisi mauidzah hasanah peringatan 1000 hari wafat dan haulnya Gus Dur. Jadi sebenarnya Gus Dur dan Mbah Moen tidaklah bermusuhan namun hanya bersandiwara atau pura-pura permusuhan untuk menutupi amal baik Gus Dur. “Gus Dur benar-benar wali,” kata Kiai Marzuki Mustamar.

Kisah kedua tentang keikhlasan Gus Dur terjadi saat Gus Dur membawa tiga buah koper ke rumah seseorang yang bernama Agus di  Kelurahan Jatikerto Malang. Gus Dur berkata kepada Agus untuk tidak membuka koper tersebut sebelum  Gus Dur meninggal dunia. 

Sesuai amanah, setelah Gus Dur meninggal dunia, dibukalah koper tersebut dan ternyata didalamnya berisi uang sebanyak 3 miliar rupiah. Saat dibuka, uang dalam koper tersebut sudah dimasukkan ke dalam amplop yang nantinya, Agus lah yang bertugas untuk membagikannya kepada para anak yatim piatu dan para janda di Kabupaten Malang.

Dan luar biasanya lagi, di dalam amplop tersebut sudah tertulis nama dan alamat yatim piatu dan para janda yang akan menerimanya. Inilah karomah Gus Dur bisa tahu nama dan alamat anak yatim dan para janda sebegitu banyak di Malang. Padahal kala itu, Gus Dur berada di Jakarta sedangkan para penerima uang dalam koper berada di Kabupaten Malang.

Kiai Marzuki pun pernah merasakan sendiri keikhlasan dari Gus Dur saat dirinya mendapatkan sarung merk BHS yang diberikan Gus Dur melalui seorang Habib di Sidoarjo. Habib tersebut berkata bahwa sarung itu adalah titipan dari Gus Dur yang harus diberikan kepada para kiai setelah Gus Dur meninggal Dunia. Karena ketika dibagi sebelum Gus Dur meninggal, maka para kiai akan mengucapkan terima kasih kepada Gus Dur. Maka itu, sampai sekarang sarung itu pun sangat disayang oleh Kiai Marzuki. Ia menyebut sarung tersebut sebagai piagam dari Gus Dur.

Kisah lain keikhlasan sosok Gus Dur adalah ketika ditanya oleh seseorang tentang apa yang paling penting di dalam hidupnya. Gus Dur pun menjawab baginya yang terpenting nomor satu adalah bangsa, nomor dua adalah NU dan nomor 3 adalah keluarga. 

Ini pun bukan omongan belaka. Prinsip ini benar-benar dibuktikan oleh Gus Dur saat suatu hari baru kembali dari Italia membawa uang yang cukup banyak. Ia tidak langsung pulang ke rumahnya namun mampir mampir terlebih dahulu di Kantor NU. 

Uang yang dibawa tersebut langsung habis dibagikannya kepada seluruh pegawai di kantor NU. Tidak ada yang tersisa untuk keluarga di rumah. Ketika Ibu Shinta Nuriyah (Istri Gus Dur) menanyakan uang tersebut untuk mengirim biaya putrinya yang sedang kuliah di Universitas Gajah Mada, Gus Dur pun menjawab bahwa uang tersebut sudah dibagikannya ke pegawai di Kantor NU.

Ibu Shinta pun jengkel dan menanyakan alasan kenapa uang tersebut dihabiskan di Kantor NU. Ditengah Ibu Shinta meluapkan kejengkelannya, Gus Dur malah bisa tertidur pulas, tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh istrinya. Ternyata prinsip “Emang Gue Pikirin, Gitu Aja Kok Repot” benar-benar tertanam dalam diri Gus Dur. Ia tetap sabar dan ikhlas walaupun dimarah dan diomong apapun oleh orang lain.

Gus Dur tidak punya hasrat agar amal baiknya dipuji oleh orang lain. Yang terpenting menurutnya Allah lah yang akan mencatatnya. Itulah mengapa saat Gus Dur wafat, orang yang semasa hidupnya mengkafir-kafirkan dan mengatakan Gus Dur sesat dan sebagainya merasa kehilangan dan semua orang pun menangis. Gus Dur memiliki magnet yang sangat kuat karena keikhlasan yang dicontohkannya semasa hidup di dunia.
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html